Visi & Misi

Visi

"MINAHASA KAWASAN PARIWISATA YANG MAJU DAN SEJAHTERA"

Misi

Sejarah Desa

Pra Desa Suluan di perkirakan adalah seirama dengan perkebunan-perkebunan besar (onderneming), pada zaman VOC, zaman penjajahan Belanda. Tak ada suatu bukti sejarah yang pasti tentang tahun dimulainya perkebunan kopi atau suatu area kurang lebih 30 ha, di lereng bukit yang subur, menghadap matahari terbit. Pada tempat yang subur ini oleh seorang bangsa Belanda yang bernama Van Baak, pra Desa Suluan dijadikan perkebunan (Onderneming) kopi. Buruh-buruh pada Onderneming tersebut terdiri dari orang-orang pribumi yang bertempat tinggal di lokasi perkebunan itu.

Bekas rumah Van Baak sampai kini masih ada, terletak pada sebelah Utara, dekat batas daerah Kepolisian Rumengkor yang bernama NIMAWALE NI TOU’M BELANDA berarti bekas rumah dari orang Belanda.

Perkebunan kopi yang luas ini sangat subur tumbuhnya karena keadaan tanah yang gemur dan subur sehingga memberikan keuntungan banyak pada Van Baak. Malang tak dapat ditolak, suatu saat malapetaka menimpa daerah perkebunan (Onderneming) kopi berupa bencana alam yang telah melenyapkan segala harapan budidaya ini. Untuk menghindarkan diri dari bencana alam maka para buruh Onderneming segera mencari tempat yang lebih aman. Van Baak sendiri pun meninggalkan daerah ini kembali ke tanah Belanda. Lama kelamaan tanah Onderneming tersebut menjadi hutan kembali.

Menjelang tahun 1900 oleh penduduk Desa Rurukan dan Kumelembuai mulai menggarap daerah bekas tanah Onderneming untuk dijadikan lahan baru. Berhubung jarak lokasi perkebunan (ladang) baru dan Desa agak jauh maka umumnya para penggarap tinggal di kebun. Kemudian muncul gagasan dari para petani penggarap untuk menjadikan daerah baru ini sebagai Desa atau Perkampungan. Pokok pikiran ini  berkaitan erat dengan usaha bersama untuk meningkatkan bidang pertanian, perekonomian, sosial, pendidikan, kebudayaan serta bidang-bidang kehidupan lainnya sebagai daerah Perkampungan baru.

Daerah pemukiman baru ini di beri nama KAENTO (Waktu berhenti)yang kemudian di ubah menjadi KANTO. Lokasi pemukiman baru kemudian di huni oleh keluarga-keluarga yang mengolah perladangan dan pertanian untuk kebutuhan hidup.

Dengan prakarsa perintis-perintis kampung, seperti TUMANI (yang telah membuka perkampungan baru)mengusulkan kepada Pemerintah Distrik Tonsea, agar pemukiman baru ini dapat dijadikan Kampung/Desa, serta mendapat pengakuan status Desa walaupun waktu itu masih dalam penjajahan Belanda.

Olehnya pada tahun 1910 datang ke pemukiman baru ini yang masih disebut “KANTO”, seorang pejabat yang bernama Major E. ROTINSULU dari bidang Pemerintahan dalam kedudukan Kepala Distrik Tonsea, dengan tujuan hendak meresmikan Desa/Kampung ini. Sebelum peresmian, terjadi saling percakapan antara Major E. Rotinsulu dengan tokoh-tokoh masyarakat serta masyarakat. Salah satu percakapan adalah Nama Sungai. Salah satu sungai di daerah ini yakni bernama KALI SEREY. Serey dalam bahasa daerah Tonsea adalah berarti OBOR (Lampu penerang yang dibuat dari ruas pohon buluh sedang, kemudian diisi minyak tanah dan biasanya dipakai pada malam hari).

GAMBARAN UMUM DESA

ASAL USUL DESA, NAMA DAN ARTINYA

Pra Desa Suluan diperkirakan seirama dengan perkebunan besar pada zaman VOC. Tidak ada bukti pasti mengenai tahun dimulainya, namun seorang Belanda bernama Van Baak membuka perkebunan kopi di wilayah tersebut. Setelah bencana alam menghancurkan perkebunan, daerah itu menjadi hutan kembali. Menjelang 1900, penduduk dari Rurukan dan Kumelembuai mulai menggarap wilayah ini dan muncul ide menjadikannya desa. Nama awal “KAENTO” berubah menjadi “KANTO”. Pada 1910, Major E. Rotinsulu mengusulkan nama “SULUAN” dari kata “SULU” (namanya) dan “AN” (nama istrinya), yang berarti obor atau penerang.

ASAL USUL PENDUDUK

Sebelum menjadi desa, wilayah ini dihuni oleh petani dari Rurukan dan Kumelembuai. Dipimpin Johan Pailah, sekitar 30 KK menetap dan mulai bercocok tanam.

TAHUN BERDIRINYA DESA SULUAN

Desa Suluan berdiri pada tahun 1907 dan disahkan pada tahun 1910 oleh Major E. Rotinsulu. Legalitasnya tertulis pada Batu Peringatan di depan Gereja GMIM Suluan.

TOKOH-TOKOH PELOPOR DAN PENDIRI

Tokoh pelopor: Johan Pailah, Pongoh Wowiling, Frits Moningka, Gosal Korompis. Mereka mengusulkan status desa kepada pemerintah kolonial Belanda.

SEJARAH PEMERINTAHAN

Pemerintahan awal Desa Suluan terdiri dari pejabat-pejabat berikut:
Jabatan Nama Asal
Hukum Tua Johan Pailah Rurukan
Juru Tulis Pongoh Wowiling Rurukan
Pengukur Tanah Frits Moningka Rurukan
Kepala Jaga 1 Makus Pangemanan Rurukan
Meweteng Jaga 1 Josepus Korompis Rurukan
Kepala Jaga 2 Nathanel Kaunang Kumelembuai
Meweteng Jaga 2 Paul Posumah Kumelembuai
Urutan Hukum Tua dari 1910 hingga sekarang:
No. Nama Hukum Tua Periode Keterangan
1 Johan Pailah (alm) 1910–1916
2 Nathanel Kaunang (alm) 1916–1918
3 Frits Moningka (alm) 1918–1946
4 John Karwur (alm) 1946–1950
5 Herling Pitoy (alm) 1950–1955
6 Noch Kaparang (alm) 1955–1970
7 Daniel Moningka (alm) 1970–1975
8 Jan Pinontoan (alm) 1975 PJS
9 Niklas P. Tulong (alm) 1975–1980
10 Simson Moningka (alm) 1980–1987
11 Wem I. Moningka (alm) 1987–1991 PJS
12 Elisa Kambey 1991–1993 PJS
13 Fentje Nangin 1993–2000
14 Ruddy Mangulu 2001 PJS
15 Djemmy L. Bogia, S.Sos 2001–2007
16 Jantje Tulong Feb–Jun 2007 PJS
17 Noldy R. Kambey, SE Jun 2007–Mei 2017
18 Petrus Moningka Mei 2017–2023
19 Adri Wori Jun 2023–Sekarang PLT

BATAS-BATAS WILAYAH

  • Utara: Rumengkor, Kembes
  • Timur: Desa Kembuan dan Tonsea Lama
  • Selatan: Kumelembuai
  • Barat: Kumelembuai, Kakaskasen

SEJARAH EKONOMI DESA

Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani sejak dulu, dengan hasil utama jagung, padi, pisang, dan cengkih. Pasar utama berada di kota Tondano.

PERKEMBANGAN KESENIAN

Kesenian seperti Maengket, Kolintang, Kabasaran dan Ma’zazani pernah berkembang. Kini hanya beberapa kesenian masih lestari.

ADAT ISTIADAT

Adat mengikuti suku Tombulu. Tradisi gotong royong (mapalus) masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat.

AGAMA

Penduduk menganut 7 agama: GMIM, Katolik, Pantekosta, Advent, Mawar Saron, Islam, dan Budha.

PENINGGALAN PURBA

Sampai saat ini belum ditemukan peninggalan purbakala di Desa Suluan.

BAHASA

Bahasa utama adalah Tombulu (Tomohon). Penduduk juga memahami Bahasa Tonsea dan Toulour karena pengaruh wilayah dan ekonomi.

Peta Desa

Peta Lokasi Desa

Batas Desa:

  • Utara: Rumengkor, Kembes
  • Timur: Desa Kembuan dan Tonsea Lama
  • Selatan: Kumelembuai
  • Barat: Kumelembuai, Kakaskasen

Luas Desa: 4.000.000 m²

Jumlah Penduduk: 1.291 Jiwa